Kisah Dusta Habib Ja'far Mengislamkan Orang Kafir Mati yang sudah di Kubur
Ada kisah dusta yang telah beredar di masyarakat, dan kisah ini berawal dan diceritakan langsung oleh habib Umar Muthohar Semarang dari panggung ke panggung hanya demi ke populeran dan demi kepentingan klannya.
Bagaimana kisahnya?
Habib Ja'far dikenal sebagai wali majdzub di kalangan masyarakat Kudus dan masyarakat umum, seseorang yang secara dzahir melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Dan Beliau meninggal dunia tahun 2021. Namun ada kisah dusta yang disebarkan oleh klannya sendiri. Habib Umar Muthohhar mengatakan bahwa dia pernah ingin pergi ke Purwokerto untuk memberikan ceramah. Habib Ja'far kemudian mengatakan dia ingin ikut, dan memilih duduk di belakang. Namun, mobil yang digunakan adalah Jeep Jimny, yang membuat duduk di belakang agak tidak nyaman.
Dalam perjalanan tersebut, singkatnya, Habib Ja'far, yang sejak awal meminta duduk di belakang, malah mengarahkan orang ke jalan yang berbeda ketika mereka ingin pergi ke Purwokerto dengan melalui jalan yang biasanya dilalui. Habib umar pun kaget dan heran. Kemudian hendak bertanya kepada habib Ja'far akan tetapi setelah mencoba bertanya, Habib Umar merasa sungkan karena Habib Ja'far. Akibatnya, dia memilih untuk mengikuti keinginan Habib Ja'far.
Setelah itu, jalan menuju banyak pohon dan akhirnya sampai di sebuah kompleks pemakaman di Bergota, Semarang. Habib Ja’far berkata kepada Habib Muthohhar dengan berkata, "Ada yang menangis ini, minta tolong."
Setelah itu, mereka turun. Habib Ja'far berjalan menuju salah satu kuburan dan mengatakan "Ini yang menangis. Kasihan orang ini, disiksa oleh malaikat," katanya, menunjuk ke kuburan yang ternyata itu kuburan orang kafir (non-muslim). Di kuburan tersebut, Habib Ja'far meminta Habib Umar untuk membacakan kalimat syahadat. Habib Umar hanya mengikuti perintah Habib Ja'far.
Habib umar pun membacakan kalimat syahadat sambil memegang pekuburan sebelumnya. Setelah itu, beliau membacakan beberapa doa. Dan dia berkata "Saya sudah tidak pakai akal. Saya sudah mengibaratkan ini seperti perintah Nabi Khidir kepada Nabi Musa saja." Ketika ditanya di dalam mobil saat meninggalkan makam, Habib Ja'far pun berkata, "nanti dia (orang kafir mati di kuburan itu) akan mengabari teman-temannya, kalau masuk Islam itu akan selamat, tidak akan dipulkuli malaikat."
Habib Umar kemudian bercerita tentang kisahnya sambil berpikir tentang pernyataan Habib Ja'far. Namun, selama empat puluh hari setelah peristiwa itu, dia mengetahui bahwa sekitar delapan belas orang hanya datang ke rumahnya atau diarahkan ke rumahnya oleh pengurus masjid tertentu karena ingin menjadi Muslim.
Inilah kisahnya yang diceritakan di mimbar-mimbar, dari panggung ke panggung. Lalu dimana letak kedustaannya?
Ini lah letak Kisah Dustanya
Hal yang paling terbukti dusta dan tidak bisa dibantah adalah kisah tersebut melanggar syariat. Ada dua point masalah disini. Namun sebelum point masalah utama, akan kami jelaskan kerancuan kisah tersebut.
1. Alur Cerita yang Tidak kemana-mana
Pada kisah tersebut terdapat kebohongan alur cerita, dimana alur cerita bepergian yang ternyata hanya berkutat di semarang saja dan hanya pada di Makam Bergota.
2. Menggunakan Istilah Wali majdzub untuk menutupi kedustaan
Banyak orang langsung percaya setelah menyatakan dirinya adalah wali majdzub. Sehingga banyak dari kisahnya langsung dibenarkan begitu saja tanpa klarifikasi atau tanpa mencari kebenaran. Apalagi dibumbuhi dengan kata "WALI KERAMAT" atau "KAROMAH". Akal orang awam langsung ngeblank dan percaya seratus persen kebanyakannya. Dan disinilah banyak orang percaya akan kisah tersebut. Padahal kisah ini mengandung kekufuran dan kedustaan yang nyata.
3. Orang yang sudah mati sudah tidak bisa bertaubat.
Dalam syariat islam, orang kafir yang masuk islam adalah dengan mengucapkan dua kalimat syahadat. Jadi disini bukan dengan mulutnya orang lain, tetapi dengan mulut sendiri untuk bisa dikatakan menjadi seorang muslim. Tidak sah jika ada orang kafir masuk islam dengan mulutnya orang lain, apalagi dikatakan dibacakan syahadat oleh orang lain. Apalagi orang yang sudah mati, jelas tidak mungkin. Inilah kedustaan pertama dari kisah tersebut.
Yang kedua adalah orang yang sudah mati sudah tidak bisa lagi melakukan apapun yang taklifi (yaitu perbuatan yang mendapatkan pahala untuk dirinya sendiri), jadi sudah tidak bisa. Pernah dengar ada hadits yang mengatakan setiap bani adam itu amalnya terputus setelah dia mati kecuali 3 perkara, 3 perkara itu adalah amal jariahnya, ilmu yang bermanfaat dan anak sholih. Ketiga perkara ini bukanlah amal taklifi bagi dirinya tetapi amal taklifi yang dilakukan orang lain untuk dirinya. Sedangkan orang yang sudah mati ya sudah amal taklifinya terputus. Sehingga dia sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi kecuali hanya mengharapkan kiriman pahala dari orang yang masih hidup. Dalam kisah itu, dinyatakan orang mati kafir sudah masuk islam. Jelas DUSTA ini.
Yang ketiga, Dalam kisah itu, orang yang mati kafir ini tidak lagi disiksa. Ini jelas pendustaan pada nash syariat. Dimana nash Syariat menjelaskan bahwa orang yang mati dalam keadaan kafir maka dia akan disiksa di dalam kuburnya dan juga di neraka selamanya. Selamanya loh. Anda bisa buka Al Quran, bahwa siapapun yang mati dalam keadaan kafir maka dia akan mendapatkan adzabnya selamanya. Dan tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi adzab orang kafir di kuburnya. Tidak ada.
Yang keempat ini berkaitan dengan hukum. Barangsiapa yang mendoakan ampunan kepada orang yang mati kafir maka dia terjatuh dalam kekufuran. Hukumnya haram. dan hukum ini telah ijma' para ulama. Walaupun dia habib, atau dikatakan wali majdzub maka tetap haram. Dia terjatuh dalam dosa besar. Bahkan dapat dikatakan kekufuran. Naudzubillah.
dan Masih banyak lagi kedustaannya. Sampai sini saja sudah jelas bahwa habib umar muthahar telah melakukan kedustaan yang disengaja dan disebarkan di tempat umum hanya demi kepopuleran. Naudzubillah.
4. Akal adalah bukti kebenaran syariat
Dalam kisah tersebut, Habib Umar muthohar mengatakan "sudah saya gak pakai akal". Disinilah letak kerancuannya. Padahal banyak sekali ayat-ayat alquran menyuruh kita untuk menggunakan akal. Bahkan banyak sekali ayat yang maknanya: "Tidakkah kamu berpikir".
Habib Umar terang-terangan unuk mengelabui orang dengan menyatakan tidak memakai akal. Hal semacam inilah yang menjadikan para muhibbin menjadi semakin bodoh dan mudah di bohongi karena akalnya disuruh tidak dipakai.
