UPDATE

Orang yang menasehatimu dengan kebaikan bukanlah ingin menguasaimu

 Banyak orang ketika dinasehati, justru ia menutup telinganya, merasa terintimidasi dan tertekan serta perasaan buruk lainnya kepada yang menasehatinya. Keadaan ini merupakan tanda hatinya sedang rapuh. 


Perhatikan sejenak dan bacalah sejenak serta ulangi membaca dengan pelan. Jika datang sebuah nasehat kepadamu dengan nasehat kebaikan. Maka sebenarnya itu tanda kebaikan telah datang kepadamu. 

Barang siapa menasihatimu dengan tulus, sesungguhnya ia hanya menginginkan kebaikan untukmu dan takut engkau tertimpa mara bahaya. Dan bukanlah makna nasihatnya bahwa ia ingin menguasaimu, merampas kebebasanmu, atau memaksakan pendapatnya kepadamu. Betapa banyak nasihat yang terasa sempit di dada, padahal —seandainya engkau menyambutnya dengan baik— ia akan menjadi sebab keselamatan dan keberhasilanmu.

Jadi sebuah nasehat yang datang kepadamu maka perhatikanlah dan bertahanlah sejenak untuk menerima nasehatnya sebelum engkau menolak nasihat itu. 

Bayangkan seandainya engkau sedang berjalan di sebuah jalan, lalu di depanmu terdapat sebuah papan rambu-rambu bertuliskan: «Dilarang melanjutkan — Ladang Ranjau». Lalu apakah engkau akan marah kepada orang yang memasang rambu-rambu itu dan berkata: “Mengapa ia membatasi kebebasanku dan melarangku berjalan ke mana pun yang kuinginkan?” 

Ataukah engkau justru akan berterima kasih kepadanya, karena ia telah memperingatkanmu dari bahaya yang tidak engkau lihat, dan menunjukkan tempat kehancuran sebelum kakimu menginjaknya?

Bersyukurlah, jika diberi nasehat. "Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ." 

Papan itu, Engkau tidak akan menganggap papan itu sebagai pelanggaran terhadap kebebasanmu, melainkan sebagai penjagaan atas keselamatanmu. Karena engkau tahu bahwa orang yang memasangnya bukan melarangmu semata-mata untuk melarang, tetapi melarangmu dari jalan yang di belakangnya terdapat kehancuran.

Demikian pula seorang pemberi nasihat yang amanah; ia mungkin melihat di jalanmu apa yang tidak engkau lihat, dan mengetahui akibat perbuatanmu yang tersembunyi darimu. Ia memperingatkanmu sebelum engkau jatuh, melarangmu sebelum engkau menyesal, dan menunjukkan jalan keselamatan sebelum akibat kesalahan mengepungmu.

Maka janganlah tergesa-gesa menolak setiap nasihat yang membuat dirimu tidak nyaman. Jangan pula menjadikan rasa sempit di dadamu sebagai bukti bahwa nasihat itu salah. Karena tidaklah segala yang menyenangkan jiwa itu benar, dan tidak pula segala yang memberatkan jiwa itu batil.

Bisa jadi penyebab ketidaknyamananmu terhadap nasihat itu adalah karena ia menyentuh titik kelemahan dalam dirimu, sehingga ia mengungkapkan apa yang selama ini engkau abaikan, engkau sembunyikan dari dirimu sendiri, atau engkau telah terbiasa melakukannya hingga engkau tidak lagi menganggapnya sebagai kesalahan.

Bisa pula penyebab rasa sempitmu adalah karena ucapan itu menunjukkan kekurangan ilmumu dalam hal yang engkau bicarakan, atau mengungkap bahwa apa yang engkau anggap benar ternyata tidak demikian. Maka sulitlah bagi jiwa untuk melakukan koreksi diri dan berat baginya untuk mengatakan: “Aku salah.”

Di sinilah engkau harus bersabar. Jangan jadikan reaksi pertama yang muncul dalam hatimu sebagai putusan akhir atas apa yang engkau dengar. Tanya dirimu dengan adil: "Apakah aku menolak ucapan ini karena memang batil, ataukah karena ia bertentangan dengan hawa nafsuku? Apakah yang membuatku marah adalah kesalahannya, ataukah karena ia mengungkap kesalahanku?"

Betapa besar kebutuhan manusia akan orang yang menunjukkan kepadanya aib-aib dan tempat-tempat kesalahannya. Sesungguhnya orang sakit yang marah kepada dokter karena memberitahunya tentang penyakitnya, ia hanyalah merugikan dirinya sendiri. Orang yang berakal tidak marah kepada orang yang mengungkap penyakitnya, tetapi justru bertanya kepadanya tentang obatnya.

Biasakan dirimu menerima kebenaran, meskipun datang dari lisan orang yang tidak engkau sukai. Jangan jadikan kesombongan jiwa sebagai penghalang antara dirimu dan kembali kepada yang benar. Mengatakan “Aku salah dan aku kembali” jauh lebih baik bagimu daripada mengetahui kebenaran lalu bersikeras menentangnya.

Jangan pula membela dirimu semata-mata untuk membela diri. Tujuan perdebatan bukanlah agar engkau mengalahkan lawan, atau keluar dari majelis sambil menjaga citra dirimu di mata orang-orang. Tujuannya adalah engkau mendapatkan kebenaran. Jika kebenaran itu muncul dari lisan orang lain, maka menerimanya adalah kemenangan yang sebenarnya.

Betapa indahnya apa yang diriwayatkan dari Imam Syafi’i —rahimahullah— bahwa beliau berkata:

 «مَا نَاظَرتُ أَحَدًا إِلَّا أَحبَبتُ أَن يَظهَرَ الحَقُّ عَلَى لِسَانِهِ»

 “Aku tidak pernah mendebat seseorang kecuali aku berharap kebenaran muncul dari lisannya.”

Inilah jiwa pencari kebenaran: Ia tidak peduli kebenaran muncul dari lisan siapa, atau kepada siapa kebenaran itu dinisbatkan. Yang menjadi perhatiannya hanyalah mengenal kebenaran lalu mengikutinya, dan mengenal kebatilan lalu menjauhinya.

Ketahuilah bahwa bahaya di jalan agama jauh lebih besar daripada bahaya ranjau di jalan fisik. Ranjau itu hanya dapat membinasakan jasadmu, sedangkan kesalahan dalam agama, kata-kata buruk, atau bersikeras di atas kebatilan, akibatnya dapat menentukan nasibmu di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

مَا يَلفِظُ مِن قَولٍ إِلَّا لَدَيهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴿

Artinya: "Tidak ada suatu kata pun yang diucapkan melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu hadir mencatat perkataan dan perbuatannya"

Apabila ada orang yang memperingatkanmu dari suatu perkataan, perbuatan, atau jalan yang ia khawatirkan akibatnya atas dirimu, janganlah segera menuduhnya, dan jangan langsung berkata: “Jangan ikut campur urusanku.” Tetapi perhatikanlah apa yang ia katakan, timbanglah dengan timbangan kebenaran. Jika itu benar, terimalah dan bersyukurlah kepada orang yang telah menunjukkannya kepadamu.

Jadikanlah cita-citamu keselamatan di akhirat, bukan kemenangan untuk dirimu sendiri. Jika urusan keselamatan akhirat menjadi besar dalam hatimu, maka akan menjadi ringan bagimu untuk kembali dari kesalahan, dan mudah bagimu menerima nasihat, meskipun pada awalnya menyakiti harga diri.

Pemberi nasihat yang tulus bagaikan papan peringatan di jalan berbahaya: Ia tidak memaksamu mengikuti keinginannya, tetapi ia berkata: “Hati-hatilah! Di depanmu ada bahaya.” Setelah itu, engkaulah yang bertanggung jawab atas jalanmu, langkahmu, dan akibat pilihanmu.

Bertahanlah sejenak sebelum menolak, berpikirlah sebelum marah, timbanglah ucapan itu dengan kebenaran —bukan dengan rasa nyaman atau sempit yang ditimbulkannya dalam hatimu—. Segeralah memperbaiki penyakit jika nasihat itu telah mengungkapkannya kepadamu. Rasa pahit kebenaran di awal jauh lebih ringan daripada rasa pahit penyesalan setelah kesempatan berlalu.

Jika engkau sungguh-sungguh dalam mencari kebenaran, mengalahkan hawa nafsu, dan menerima nasihat di mana pun ia berada sebagai kebenaran, maka setelah perjuangan itu engkau akan menemukan kenikmatan ketaatan, ketenangan kembali kepada yang benar, dan kesembuhan hati dari penyakit sombong dan membangkang.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar