Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Hakikat Qodlo dan Qodar Yang Sering Salah

Berbicara Iman kepada Qodlo dan Qodar adalah merupakan pembahasan pada akhir dari pemahaman pokok keimanan yang ke-enam (Ushulul-Iman as-Sittah). Dengan mempelajari pembahasan ini, semoga kita dapat diberi pemahaman yang benar dalam memahami makna dari Qodlo dan Qodar Allah dengan keimanan yang mantab dan benar-benar kuat. Karena sekarang ini, telah muncul beberapa orang bahkan sebagian kelompok yang berani mengingkari Qodlo dan Qodar ini dan juga berani berusaha untuk mengaburkannya, baik melalui berbagai tulisan-tulisan, maupun kajian di bangku-bangku perkuliahan. Semoga kita semua selamat dari kekufuran. Aaamiiin.


Tentang kewajiban iman kepada Qodlo dan Qodar, dalam sebuah riwayat hadits shahih Rasulullaah bersabda:

الإيْمَانُ أنْ تُؤمِنَ باللهِ وَمَلاَئكِتَهِ وَكُتُبهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرّهِ (رواه مسلم)

“Iman yaitu engkau benar-benar percaya kepada Allaah Ta'ala, dan Malaikat-Malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan Rosul-Rasul-Nya, hari akhir (kiamat), dan engkau benar-benar percaya kepada Qodar Allaah, yang baik maupun yang buruk”. (HR.Muslim).

Al-Qodlo artinya al-Kholqu, yaitu penciptaan. Dan al-Qodar bermakna at-Tadbir, yaitu ketentuan. Secara istilah bahwa al-Qodar artinya ketentuan Allaah atas segala sesuatu yang sesuai dengan ilmu (al-‘Ilm) Allaah dan kehendak-Nya (al-Masyi’ah) yang azali (yaitu tidak bermula), dimana sesuatu hal tersebut terjadi pada waktu yang telah ditetapkan dan dikehendaki Allaah Ta'ala terhadap peristiwanya.

Penggunaan kata “al-Qodar” itu terbagi kepada dua maksud. Pertama; Al Qodar bisa bermaksud bagi sifat “Taqdir” Allaah, yaitu sifat menentukannya Allaah terhadap segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Sedangkan Al-Qodar dalam pengertian sifat Taqdir Allaah ini tidak boleh disifati dengan keburukan dan kejelekan. Karena dalam sifat menentukan Allaah Ta'ala terhadap segala sesuatu bukanlah suatu keburukan atau kejelekan. Akan tetapi sifat menentukannya Allah terhadap segala sesuatu yang di kehendaki-Nya adalah sifat yang baik dan sempurna, sebagaimana sifat-sifat Allah lainnya. Sifat-sifat Allah tersebut tidak boleh dikatakan buruk, kurang, atau sifat-sifat jelek lainnya.

Kedua: kata al-Qodar adalah bermaksud bagi segala sesuatu yang terjadi pada setiap makhluk, atau disebut dengan al-Maqdur. Al-Qodar dalam pengertian al-Maqdur ini adalah mencakup segala apa-pun yang terjadi pada seluruhnya makhluk ini; dari kejadian keburukan dan kebaikan, keshalehan dan juga kejahatan, ke-iman-an dan juga ke-kufur-an, ke-taat-an dan juga ke-maksiat-an, dan lain sebagainya. Makna dari yang kedua ini, yang dimaksud dengan hadits Jibril tersebut, “Wa Tu’mina Bil-Qodari, Khoirihi Wa Syarrihi”, sehingga bahwa di antara pokok-pokok keimanan adalah beriman dengan al-Qodar, yang baiknya dan juga buruknya. Al-Qodar dalam hadits ini adalah pengertian al-Maqdur tersebut.


Pemisahan makna tersebut antara sifat Taqdir Allah dengan yang dinamakan al-Maqdur adalah sebuah keharusan. Hal ini dikarenakan bahwa sesuatu yang disifati dengan yang baik dan juga yang buruk, atau baik dan yang jahat, adalah hanya pada makhluk saja. 

Artinya, bagi siapa yang melakukan sebuah kebaikan maka perbuatannya tersebut disebut hal “baik”, dan bagi siapa yang melakukan sebuah keburukan maka perbuatannya tersebut disebut hal yang “buruk”. Dan pada penyebutan hal “baik dan buruk” seperti ini hanyalah berlaku pada makhluk saja. Adapun sifat Taqdir Allaah Ta'ala, yaitu sifat menentukannya Allaah Ta'ala terhadap segala sesuatu yang Ia kehendaki-Nya, maka sifat-Nya ini tidak boleh dikatakan buruk. Sifat Taqdir Allah, sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain, adalah sifat yang baik dan sempurna, maka tidak boleh dikatakan buruk atau jahat. 

Dengan demikian, apabila seorang hamba melakukan hal keburukan, maka itu adalah perbuatan dan sifat yang buruk dari diri hamba tersebut. Adapun Taqdir Allaah terhadap hal keburukan yang terjadi pada hamba itu bukanlah berarti Allaah menyukai dan memerintahkan kepada hal keburukan tersebut. Begitu juga, Allaah yang menciptakan hal kejahatan, tidak berarti Allaah itu jahat, tidak sama sekali. Dan tidak boleh dikatakan Allaah itu jahat. Inilah yang dimaksud bahwa kehendak Allaah yang meliputi segala perbuatan dari makhlukNya, terhadap perbuatan yang baik maupun yang buruk.

Segala perbuatan yang terjadi pada alam semesta ini, hal itu kekufuran dan keimanan, ketaatan dan juga kemaksiatan, dan berbagai hal lainnya, semunya terjadi dengan atas kehendak dan dengan penciptaan Allaah Ta'ala. Hal ini adalah menunjukan akan kesempurnaan Allaah Ta'ala, serta menunjukan akan keluasan seluruhnya kekuasaan dan kehendak-Nya atas segala sesuatu. Karena apabila seandainya pada makhluk tersebut terjadi sesuatu yang tidak dikehendaki kejadiannya oleh Allaah Ta'ala, maka itu berarti menafikan sifat ketuhanan-Nya, dan juga berarti kehendak Allaah dapat dikalahkan oleh kehendak makhluk-Nya. Ini adalah sesuatu yang Mustahil. Karena itu bewrtentangan dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:

مَا شَاءَ اللهُ كاَنَ وَمَا لَمْ يَشَأ لَمْ يَكُنْ (رواه أبو داود)

“Apa pun yang dikehendaki oleh Allaah Ta'ala -akan peristiwa kejadiannya- maka pasti terjadi, dan apa pun yang tidak dikehandaki oleh Allaah Ta'ala, maka itu tidak akan pernah terjadi”. (HR. Abu Dawud).


Jadi, dapat dijadikan pedoman bahwa segala apa pun yang dikehendaki oleh Allah terhadap peristiwa kejadiannya maka semua itu pasti terjadi. Karena apabila ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak-Nya, maka hal itu menunjukkan akan kelemahan dan itu mustahil. Sedangkan sifat lemah itu mustahil atas Allaah Ta'ala. 

Bukankah Allaah Maha Kuasa atas segala sesuatu?! Maka di antara bukti kekuasaan-Nya adalah seluruh segala sesuatu yang dikehendaki-Nya pasti ter-laksana. Oleh karena itu, dari sudut pandang syariat dan juga akal, terjadinya segala sesuatu yang dikehendaki oleh Allaah Ta'ala adalah suatu perkara yang wajib, ini artinya perkara wajib adanya dan pasti terjadi. Dalam hal ini Allah berfirman:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ (يوسف: 21)

Maknanya: “Allaah Ta'ala Maha Mengalahkan (menang) di atas segala urusan-Nya”. (yang artinya, segala sesuatu yang Allaah kehendaki itu pasti akan terjadi, tidak ada siapa-pun yang dapat menghalangi-Nya). (QS.Yusuf: 21)

Allaah Ta'ala menghendaki orang-orang mukmin dengan ikhtiar mereka untuk menjadi beriman kepada-Nya, maka mereka akan menjadi orang-orang yang beriman. Dan juga Allah menghendaki orang-orang kafir dengan ikhtiar mereka untuk menjadi kufur kepada-Nya, maka mereka semua menjadi orang-orang yang kafir. Jika seumpama Allaah berkehendak semua makhluk-Nya menjadi beriman kepada-Nya, maka mereka semua pasti beriman kepada-Nya. Allah berfirman:

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَآَمَنَ مَنْ فِي الْأَرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا (يونس: 99)

“Dan bahwa seandainya Tuhanmu (Wahai Muhammad) berkehendak, niscaya seluruh (Jin dan Manusia) yang ada di bumi ini akan beriman”. (QS. Yunus: 99).

Akan tetapi Allaah Ta'ala tidak menghendaki semuanya beriman kepada-Nya. Namun demikian Allaah memerintah mereka semua (seluruh makhlukNya) untuk beriman kepada-Nya. Jadi, di sini harus bisa dipahami, bahwa “kehendak Allaah” dan “perintah Allaah” adalah dua hal berbeda. Sehingga, Tidak segala sesuatu yang dikehendaki-Nya adalah sesuatu yang diperintah-Nya. Dan Tidak segala sesuatu yang diperintah-Nya adalah sesuatu yang dikehendaki-Nya. Tidak seperti itu. Kehendak dan perintah adalah hal yang berbeda. 

Oleh karena itu, awas hati-hati bahwa perkataan sebagian orang yang mengatakan bahwa “Segala sesuatu adalah atas perintah Allah”, atau “Banyak sekali perbuatan kita yang tidak dikehendaki oleh Allaah (yang maksudnya kemaksiatan-kemaksiatan)”, adalah itu perkataan yang salah total dan harus dihindari atau dibuang. Karena Allaah tidak memerintahkan kepada perbuatan-perbuatan untuk maksiat atau kekufuran. Akan tetapi, kejadian kemasiatan atau kekufuran tersebut adalah hal dengan kehendak Allaah Ta'ala.

Harus kita ganti dengan perkataan yang benar, Yaitu segala sesuatu yang terjadi di alam ini adalah dengan atas kehendak Allaah Ta'ala, dengan Taqdir-Nya dan dengan Ilmu-Nya. Semua kebaikan yang terjadi dengan kehendak Allah, dengan Taqdir-Nya, dan dengan Ilmu-Nya, serta kebaikan ini juga dengan perintah-Nya, mahabbah-Nya, dan dengan keridlaan-Nya. 

Sedangkan segala keburukan yang terjadi dengan kehendak Allaah, dengan Taqdir-Nya, dan dengan Ilmu-Nya, akan tetapi tidak dengan perintah-Nya, tidak dengan mahabbah (cinta atau ridlo)-Nya, dan tidak dengan keridlaan-Nya. Jadi artinya keburukan, kejahatan, atau kemaksiatan tidak disukai dan tidak diridlai oleh Allaah Ta'ala. Dengan kata lain, bahwa segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allaah, akan tetapi tidak semuanya dengan perintah Allaah.


Banyak sekali bukti-buktinya yang terjadi dan diantara bukti yang menunjukan bahwa perintah Allaah Ta'ala berbeda dengan kehendak-Nya adalah peristiwa apa yang terjadi dengan Sayyidina Nabi Ibrahim Alaihis Salaam. Beliau diberi wahyu melalui mimpi untuk menyembelih putranya; Sayyidina Nabi Isma’il. Wahyu ini merupakan perintah Allaah kepada Nabi Ibrahim. Kemudian saat Nabi Ibrahim melaksanakan apa yang diwahyukan atau diperintahkan Allaah ini, bahkan beliau telah meletakan golok yang sangat tajam dan sudah menggerak-gerakannya di atas leher sayyidina Nabi Isma’il, dan yang terjadi adalah Allaah tidak berkehendak terjadinya sembelihan terhadap Nabi Isma’il tersebut. Akan tetapi, Allah mengganti badan dari Nabi Isma’il dengan se-ekor domba yang dibawa oleh Malaikat Jibril dari syurga. Peristiwa bersejarah ini menunjukan bahwa perbedaan yang sangat nyata bahwa antara perintah Allah dan kehendak-Nya itu hal yang berbeda.

Contoh lain, Allaah memerintah kepada seluruh hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya. Namun yang terjadi bahwa Allah berkehendak tidak semua hamba tersebut beribadah kepada-Nya. Ada sebagian hamba-Nya yang dikehendaki untuk menjadi orang-orang beriman, dan juga ada sebagian dari hamba-Nya yang lain dikehendaki menjadi orang-orang kafir. Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ*( الذاريات : ٥٦ )

Maknanya “Dan tidaklah Aku (Allaah) ciptakan jin dan manusia kecuali Aku (Allaah) perintahkan mereka beribadah kepada-Ku dan Aku (Allaah) cegah mereka berbuat maksiat kepada-Ku”. (QS. adz-Dzariyat: 56).

*أي ليأمرهم الله بعبادته وينهاهم عن معصيته

Makna dari firman Allaah “Illa Li-Ya’buduun”, artinya “Li ya'murahum Bi ‘Ibadatihi”. Bahwa Allaah menciptakan Jin dan manusia tidak lain ialah Allaah perintahkan mereka beribadah kepada-Nya. Makna ayat ini bukan “Aku (Allaah) ciptakan jin dan manusia melainkan aku berkehendak pada mereka untuk menyembah-Ku”. Karena jika diartikan bahwa Allaah berkehendak dari seluruh manusia dan jin untuk beriman atau beribadah kepada-Nya, maka berarti kehendak Allah dikalahkan oleh kehendak orang-orang kafir. Karena pada kenyataannya tidak semua hambaNya mau beriman dan beribadah kepada Allaah, bahkan di antara mereka yang kafir dan menyembah selain Allaah. Tentu mustahil jika kehendak Allaah dikalahkan oleh kehendak makhluk-Nya sendiri.

Kisah Hikmah terkait Qodlo dan Qodar

Diriwayat-kan bahwa suatu ketika ada seorang Majusi yang berbincang-bincang dengan seorang Qodari. Perlu diketahui bahwa Seorang Qodari (adalah pengikut faham Qodariyyah) yaitu orang yang berkeyakinan bahwa segala perbuatan manusia dan jin adalah ciptaan manusia itu sendiri, bukan ciptaan Allah. Jadi Kaum Qodariyyah ini adalah kaum yang ingkar terhadap Qodar Allaah. Mereka mengaku sebagai orang Islam, tapi pada hakekatnya mereka adalah orang-orang kafir.

dikatakan: 

Seorang Qodari berkata kepada al-Majusi: “Wahai engkau orang Majusi, masuk Islam-lah engkau!”.

Seorang Majusi ini tahu bahwa Tuhan orang Islam adalah Allaah, maka ia (majusi) menjawab: “Allaah tidak berkehendak agar saya masuk Islam…!”.

Seorang Qodari berkata: “Tidaklah begitu. Sesungguhnya Allaah berkehendak supaya dirimu masuk Islam. Namun dirimu sendiri tetap berkehendak dalam kekufuranmu…!”.

Si Majusi berkata: “Jika benar demikian, maka berarti kehendakku sendiri ini mengalahkan kehendak dari Tuhanmu. Karena buktinya sampai detik ini aku tidak berkehendak keluar dari agamaku (majusi)…!”.

Si Qodari terdiam seribu bahasa. Ia tidak bisa lagi “mematahkan” perkataan orang majusi tersebut karena kesesatannya sendiri. Kenapa sesat sendiri? Pertama; si Qodari sesat karena ia berkeyakinan bahwa segala perbuatan hamba manusia dan jin adalah ciptaan manusia itu sendiri. Kedua; si Qodari sesat kerena ia tidak bisa membedakan antara kehendak Allaah (Masyi’ah Allaah) dengan perintah Allaah (Amr Allaah).

Takdir Allah Tidak Berubah

Perlu ditegaskan lagi bahwa segala sesuatu terjadi di alam ini adalah dengan kehendak Allaah. Ketika Allaah menghendaki sesuatu akan terjadi peristiwa pada seorang hamba-Nya, maka pasti sesuatu peristiwa itu akan menimpanya, walaupun orang tersebut banyak bersedekah, berdoa, ber-silaturrahim, dan juga berbuat baik kepada sanak kerabatnya; kepada ibunya, dan saudara-saudaranya. Maknanya adalah apa yang telah ditetapkan oleh Allaah Ta'ala tidak dapat dirubah oleh amalan-amalan kebaikan.

Sedangkan hadits Rasulullaah yang berbunyi:

لَا يَرُدُّ القَضاَءَ شَيءٌ إلّاالدُّعَاءُ (رواه الترمذي)

“Tidak ada sesuatu yang dapat menolak Qodlo' kecuali dengan berdoa”. (HR. at-Tirmidzi).

Yang dimaksud dengan Qodlo di dalam hadits ini adalah Qodlo Mu’allaq. Disini harus kita ketahui bahwa Qodlo' terbagi kepada dua bagian: Qaodlo' Mubrom dan Qodlo' Mu’allaq.

Pertama: Qodlo' Mubrom, ialah ketentuan Allaah yang pasti terjadi dan tidak dapat berubah sedikitpun. Ketentuan ini hanya ada pada Ilmu Allah, tidak ada siapapun mengetahuinya selain Dia. Seperti ketentuan mati dalam keadaan kufur (asy-Syaqawah), dan juga mati dalam keadaan beriman (as-Sa’adah). Ketentuan dari dua hal ini tidak dapat berubah. Seseorang yang telah ditetapkan oleh Allaah baginya mati dalam keadaan beriman maka hanya hal itu yang akan terjadi padanya, tidak akan pernah berubah. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang telah ditentukan oleh Allaah baginya mati dalam keadaan kufur maka pasti hal tersebut akan terjadi pada dirinya, tidak ada siapapun, dan tidak ada perbuatan apapun yang dapat merubahnya. Allah berfirman:

يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ (النحل: 93)

Artinya “Allaah menyesatkan terhadap orang yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki”. (QS. an-Nahl: 93).

Kedua: Qodlo Mu’allaq, yaitu ketentuan Allaah yang berada pada lembaran-lembaran buku para Malaikat. Para Malaikat tersebut mengutipnya daripada al-Lauhal-Mahfuzh. Misalnya si fulan, apabila ia berdoa maka ia umurnya menjadi berkah, atau akan mendapat rizki yang luas, atau akan mendapatkan kesehatan, dan seterusnya. misalkan si fulan ini tidak mau berdoa, atau tidak mau bersillaturrahim, maka umurnya tidak mendapatkan keberkahan, ia tidak akan mendapatkan rizki yang luas dan berkah, dan tidak akan mendapatkan berkah kesehatan. Inilah yang dimaksud dengan Qadla Mu’allaq atau Qodar Mu’allaq, yaitu ketentuan-ketentuan Allah yang berada pada lebaran-lembaran para Malaikat.

Sehingga dapat dipahami bahwa berdoa tidak dapat merubah ketentuan (Taqdir) Allah yang Azali yang merupakan sifat-Nya. Karena mustahil sifat Allaah bergantung kepada perbuatan atau doa-doa para hamba-Nya. Sesungguhnya Allaah maha mengetahui segala sesuatu, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya suatu apa pun. Allaah maha mengetahui segala perbuatan manakah yang akan dipilih oleh si fulan dan juga apa yang akan terjadi padanya sesuai yang telah tertulis di al-Lauh al-Mahfuzh.

Namun demikian, perbuatan berdoa ini adalah sesuatu perkara yang diperintahkan oleh Allaah Ta'ala atas para hamba-Nya. Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)

“Dan jika para hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Wahai Muhammad) tentang Aku (Allaah), maka sesungguhnya Aku dekat (bukan dalam pengertian jarak), Aku (Allaah) kabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia mau memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku memohon terkabulkan doa kepada-Ku dan beriman kepada-Ku, semoga mereka mendapatkan petunjuk” (QS. al-Baqarah: 186)

Artinya bahwa seseorang yang mau berdoa maka itu tidak akan sia-sia belaka. Orang tersebut pasti akan mendapatkan tiga kebaikan sekaligus atau salah satu darinya. Yaitu 1) dosa yang diampuni oleh Allaah Ta'ala, 2) Doa/permintaan yang dikabulkan oleh Allah Ta'ala, dan atau 3) mendapatkan kebaikan yang disimpan baginya (orang tersebut) untuk di kemudian hari kelak. Semua dari tiga kebaikan ini adalah merupakan bentuk kebaikan baginya yang mau berdoa. 

Dengan demikian maka hal itu tidak mutlak bahwa setiap doa yang di-pinta-kan oleh para hamba-Nya pasti dikabulkan oleh Allaah Ta'ala. Akan tetapi ada do'a yang dikabulkan dan ada pula do'a yang tidak dikabulkan. Jadi, bahwa setiap do'a yang di-pinta-kan oleh seorang hamba kepada Allaah Ta'ala adalah sebagai kebaikan bagi dirinya sendiri, artinya bukanlah sebuah hal yang sia-sia. Dalam keadaan apapun, seseorang yang ketika berdoa paling tidak ia akan mendapatkan salah satu dari kebaikan tersebut.

Allaah Pencipta Segala Kebaikan Dan Keburukan

Akidah Ahlussunnah telah menetapkan bahwa Allaah yang menciptakan segala kebaikan dan segala keburukan. Namun demikian, ada beberapa faham yang berusaha mengaburkan kebenaran ini dengan mengutip beberapa ayat yang sering di-salah-pahami oleh mereka. Di-antaranya, mereka mengutip firman Allah:

بِيَدِكَ الْخَيْرُ (ءال عمرا: 26)

Maknanya: “… dengan kekuasaan-Mu (Ya Allah) segala kebaikan”. (QS. Ali ‘Imran: 26).

Mereka berkata: “Dalam ayat ini Allaah hanya menyebutkan al-Khair (kebaikan) saja, Dia tidak menyebutkan asy-Syarr (keburukan). Dengan demikian Allah hanya menciptakan kebaikan saja, adapun keburukan bukan ciptaan-Nya?!”.

Jawab:

Kata asy-Syarr (suatu keburukan) tidak di-sanding-kan dengan kata al-Khair (suatu kebaikan) dalam ayat itu tidak berarti bahwa Allaah tidak pencipta keburukan. Perkataan atau Ungkapan hal semacam ini dalam istilah Ilmu Bayan (salah satu cabang Ilmu Balaghah) di-nama-kan dengan al-Iktifa’. Yaitu meninggalkan penyebutan suatu kata karena telah diketahui persamaannya/padanannya. Contoh semacam ini di dalam al-Qur’an firman Allah:

وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ (النحل: 81)

Maknanya: “Dia (Allaah) menjadikan bagi kalian pakaian-pakaian yang memelihara kalian daripada panas”. (QS. an-Nahl: 81)

Yang dimaksud dari ayat ini adalah pakaian yang dapat memelihara kalian dari panas, dan juga dapat memelihara dari dingin. Artinya, secara lengkap adalah tidak khusus memelihara dari panas saja. Demikian pula maksud dengan firman Allaah dalam QS. Ali ‘Imran: 26 adalah bukan berarti Allaah khusus menciptakan suatu kebaikan saja, tapi yang dimaksud secara lengkap adalah Allaah Ta'ala menciptakan segala kebaikan dan juga segala keburukan.

Kemudian dalam ayat lain, Allah berfirman:

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ (الفرقان: 2)

Maknanya: “Dan Dia (Allah) yang telah menciptakan segala sesuatu”. (QS. al-Furqan: 2)

Kata dari “Syai’”, yang secara harfiyah yaitu bermakna “sesuatu”, dalam ayat ini mencakup segala suatu apapun selain Allaah. Yaitu mencakup segala benda dan segala sifat benda, termasuk juga segala perbuatan manusia, juga termasuk segala kebaikan dan juga segala keburukan. Sehingga artinya, segala apapun selain Allaah adalah ciptaan Allaah.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ (ءال عمران: 26)

“Katakan-lah (Wahai Muhammad), Yaa Allaah yang memiliki kerajaan, Engkau (Allaah) berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki”. (QS.Ali ‘Imran: 26)

Sehingga dari makna firman Allaah: “Engkau (Yaa Allaah) berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki”, ini dapat dipahami bahwa Allaah adalah Pencipta seluruh kebaikan dan juga seluruh keburukan. Allaah-lah yang memberikan kerajaan kepada raja-raja kafir, contohnya Fir’aun, dan Allaah pula-lah yang memberikan kerajaan kepada raja-raja mukmin, contohnya Raja Dzul Qarnain.

Adapun firman Allah:

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ (النساء: 79)

Makna dari ayat ini bukan-lah berarti kebaikan ciptaan Allaah, sementara suatu keburukan ciptaan manusia, jelas tidak demikian. Pemaknaan yang seperti ini adalah pemaknaan yang rusak dan merupakan kekufuran. Makna yang benar adalah --sebagaimana telah ditafsirkan oleh para ulama-- bahwa kata dari “Hasanah” dalam ayat tersebut artinya nikmat, sedangkan kata dari “Sayyi’ah” artinya musibah atau bala' (bencana). Dengan demikian makna dari ayat tersebut adalah: “Segala apa-pun dari nikmat yang kamu peroleh/dapatkan adalah berasal dari Allaah, dan segala apa-pun dari musibah dan bencana yang telah menimpamu adalah balasan dari kesalahanmu (maksiat)”. Artinya, amal buruk (maksiat) yang manusia lakukan dibalas oleh Allaah dengan musibah dan bala'.

Allaah Pencipta Sebab dan Akibat

Di dunia ini ada sesuatu yang dinamakan “sebab” dan juga ada yang dinamakan “akibat”. Contohnya, 0bat sebagai sebab bagi -akibat- s3mbuh, contoh lain: api sebagai sebab bagi -akibat- kebakaran, contoh lain lagi: makan sebagai sebab bagi -akibat- kenyang, dan banyak lagi contohnya. Akidah Ahlussunnah wal jamaah telah menetapkan bahwa sebab dan akibat ini tidak berlaku dengan sendiri-nya. Artinya adalah setiap dari sebab sama sekali tidak-lah menciptakan akibat-nya masing-masing. Tetapi keduanya, baik dari sebab maupun dari akibat, adalah ciptaan Allaah dan dengan ketentuan (Taqdir) Allaah. Dengan demikian, 0bat dapat meny3mbuhkan sak1t karena kehendak Allaah, begitu juga api dapat membakar karena kehendak Allaah, dan demikian seterusnya. Segala akibat dari segala sebabnya, jika akibat-akibat tersebut tidak dikehendaki oleh Allaah akan kejadiannya maka sebab ataupun akibat semua tidak akan pernah terjadi.


Dalam sebuah hadits Shahih, Rasulullaah bersabda:

إنّ اللهَ خَلَقَ الدّوَاءَ وَخَلقَ الدَّاءَ فَإذاَ أُصِيْبَ دَوَاءُ الدّاء بَرِأ بإِذْنِ اللهِ (رواه ابن حبّان)

“Sesungguhnya Allaah yang menciptakan segala 0bat dan yang menciptakan segala p3nyak1t. Apa-bila 0bat mengenai p3nyak1t maka s3mbuhlah ia dengan karena izin Allaah”. (HR. Ibn Hibban).

Sabda Rasulullaah dalam hadits tersebut: 

“… maka s3mbuhlah ia dengan izin Allah” adalah bukti bahwa 0bat tidak dapat memberikan ke-s3mbuh-an dengan sendirinya. Dan perkara ini nyata dalam kehidupan manusia sehari-hari. Seringkali kita melihat begitu banyak orang dengan berbagai macam p3nyak1t, dalam ber0bat mereka mempergunakan 0bat yang sama, padahal jelas p3nyak1t mereka berbeda dan bermacam-macam. Dan ternyata, sebagian orang tersebut ada yang s3mbuh, namun sebagian manusia lainnya tidak kunjung s3mbuh. Tentunya apa-bila 0bat bisa memberikan kes3mbuhan dengan sendirinya maka pastilah setiap orang yang mempergunakan 0bat tersebut akan s3mbuh, namun kenyataan tidak demikian. Inilah yang dimaksud sabda Rasulullaah: “… maka akan s3mbuh dengan izin Allaah”.

Dengan demikian dapat mengetahui bahwa adanya 0bat tersebut adalah dengan kehendak Allaah, demikian pula adanya kes3mbuhan sebagai akibat dari 0bat tersebut juga dengan kehendak dan ketentuan Allaah. 0bat dengan sendirinya tidak menyebabkan kes3mbuhan. Demikian pula dengan sebab-sebab lainnya, semua itu tidak mengakibatkan akibatnya masing-masing. Kesimpulannya adalah kita manusia wajib berkeyakinan bahwa sebab tersebut tidak menciptakan akibat tersebut, akan tetapi Allaah-lah yang menciptakan segala sebab dan juga segala akibat.

Beberapa Golongan dalam Masalah Qodlo dan Qodar

Dalam masalah Qodlo dan Qodar, umat Islam ini terpecah menjadi tiga golongan. Kelompok pertama disebut dengan golongan Jabriyyah, kelompok kedua disebut dengan golongan Qadariyyah, dan kelompok ketiga adalah golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Golongan pertama dan golongan kedua adalah merupakan golongan sesat menyesatkan, dan hanya golongan ketiga-lah yang selamat. Kenapa begitu? Kelompok pertama, yaitu golongan Jabriyyah, mereka berkeyakinan bahwa para hamba itu dipaksa (Majbur) dalam segala perbuatannya. Mereka berkeyakinan bahwa seorang hamba sama sekali ia tidak memiliki usaha atau ikhtiar (al-Kasab) dalam perbuatannya tersebut. Menurut golongan kaum Jabriyyah, manusia laksana sehelai bulu atau lakasana kapas yang terbang ditiup angin, ia mengarah ke manapun angin itu membawanya. inilah sesatnya yang bertentangan dengan Al-Qur'an.

Keyakinan sesat kaum Jabriyyah ini bertentangan dengan firman Allah:

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (التكوير: 29)

Maknanya: “Dan kalian tidak-lah berkehendak kecuali apa yang dikehendaki oleh Allaah, Tuhan semesta alam”. (QS. at-Takwir: 26).

Jadi, Ayat ini memberikan penjelasan bahwa para manusia diberi kehendak (al-Masyi’ah) oleh Allah. Hanya saja kehendak manusia tersebut dibawah kehendak Allaah. Pemahaman ayat ini berbeda dengan keyakinan kaum Jabriyyah yang sama sekali menafikan Masyi’ah dari hamba.

Di dalam ayat lain secara TEGAS dinyatakan bahwa manusia memiliki usaha dan ikhtiar (al-Kasb). Yaitu dalam firman Allah:

لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ (البقرة: 286)

“Bagi setiap jiwa--balasan segala kebaikan--dari segala apa yang telah manusia usahakan – dari amal baik--, dan atas setiap jiwa--balasan segala keburukan-- dari segala apa yang manusia usahakan -dari amal buruk-”. (QS. al-Baqarah: 286)

Dan golongan kedua, kebalikan dari golongan Jabriyyah yaitu golongan Qodariyyah. Kelompok dari golongan ini memiliki keyakinan bahwa seluruh manusia memiliki sifat Qodar (menentukan) dalam melakukan segala amal perbuatannya, tanpa didasari adanya kehendak dari Allaah terhadap perbuatan-perbuatan tersebut. Mereka bahkan mengatakan bahwa Allaah tidak-lah menciptakan perbuatan-perbuatan manusia, tetapi manusia sendiri-lah yang menciptakan perbuatan-perbuatannya dirinya tersebut. 

Golongan Qodariyyah ini juga kelompok yang sesat. Karena mereka berkeyakinan seperti ini. Golongan Qodariyyah sama sekali bukan orang-orang Islam. Karenanya, para ulama Ahlussunnah-pun sepakat dalam mengkafirkan kaum Qodariyyah yang berkeyakinan semacam ini. Dengan mereka meyakini bahwa manusia mampu menciptakan perbuatannya sendiri sama saja telah menyekutukan Allaah dengan makhluk-makhluk-Nya, karena kelompok Qodariyyah ini menetapkan adanya pencipta kepada selain Allaah Ta'ala. Sama saja golongan Qodariyyah ini juga telah menjadikan Allaah lemah (‘Ajiz), karena dalam keyakinan mereka bahwa Allaah tidak menciptakan segala perbuatan hamba-Nya. Hal ini sangat bertentangan di dalam al-Qur’an, Allah berfirman:

قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ (الرعد: 16)

Maknanya: “Katakan (Wahai Muhammad), Allaah adalah yang menciptakan segala sesuatu”. (QS. ar-Ra’ad: 16)

Tentu mustahil bagi Allaah tidak kuasa ataupun lemah untuk menciptakan segala perbuatan hamba-Nya. Karena sesungguhnya Allaah Ta'ala yang menciptakan segala benda, dari mulai benda paling kecil bentuknya, yaitu adz-dzarrah, hingga benda yang paling besar atau terbesar, yaitu ‘arsy, termasuk tubuh manusia, yang juga dapat dikatakan sebagai benda, juga ciptaan Allaah. 

Artinya, bahwa Allaah yang menciptakan segala benda tersebut, seluruh makhluk tersebut, maka demikian pula Allaah yang menciptakan segala sifat dari benda-benda tersebut, juga segala perbuatan-perbuatannya. 

Sangat mustahil jika satu benda diciptakan oleh Allah, tetapi kemudian sifat-sifat benda tersebut diciptakan oleh benda itu sendiri. Oleh karena itu, al-Imam al-Bukhari telah menulis satu kitab berjudul “Khalq Af’al al-‘Ibad”, yang berisi penjelasan detail bahwa segala perbuatan manusia adalah ciptaan Allaah, bukan ciptaan manusia itu sendiri.

Jadi sangat jelas kesesatan golongan Qodariyyah ini. Bahwa mereka adalah kaum yang kafir kepada Allaah, karena mereka menetapkan adanya pencipta kepada selain Allaah. Mereka telah menjadikan Allaah setara dengan makhluk-makhluk-Nya sendiri. Mereka tidak hanya menetapkan adanya satu sekutu bagi Allaah, tapi mereka justru menetapkan banyak sekutu bagi-Nya. Karena dalam keyakinan mereka bahwa setiap manusia adalah pencipta bagi segala perbuatannya sendiri, sebagimana Allaah adalah Pencipta bagi tubuh-tubuh semua manusia tersebut. Na’udzu Billaah min dzalik. 

Golongan Selamat

Golongan terakhir atau ketiga, yaitu Ahluassunnah Wal Jama’ah, adalah golongan yang selamat. Keyakinan golongan ini adalah keyakinan yang telah dipegang teguh oleh mayoritas umat Islam dari masa ke masa, antar-genarasi ke-genarasi. Dan inilah keyakinan yang telah diwariskan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya. Golongan ini menetapkan bahwa tidak ada pencipta selain Allaah. Hanyalah Allaah yang menciptakan semua makhluk, dari segala dzat-dzat atau tubuh-tubuh mereka, hingga segala sifat-sifat dan perbuatan-perbuatannya masing-masing.

Dari segi perbuatan manusia terbagi kepada dua bagian. (Pertama); Af’al Ikhtiyariyyah, yaitu segala perbuatan yang terjadi dengan inisiatif, dengan usaha, dan dengan ikhtiar dari manusia itu sendiri yang diciptakan Allaah. Contohnya makan, minum, berjalan, dan lain sebagainya. (Kedua); Af’al Idlthirariyyah, yaitu segala perbuatan yang terjadi pada diri hamba yang terjadi di luar usaha, dan di luar ikhtiar manusia itu sendiri yang diciptakan Allaah. Contohnya detak jantung, aliran darah dalam tubuh, mengigau dan lain sebagainya. Seluruh perbuatan manusia ini, baik Af’al Ikhtiyariyyah, maupun Af’al Idlthirariyyah adalah ciptaan Allaah.

Kesimpulan

Dari uraian di atas menjadi jelas bagi kita sebagai kelompok ahlussunnah wal jamaah bahwa apapun yang terjadi di alam ini tidaklah ter-lepas dari Qodlo dan Qodar Allaah. Artinya bahwa semuanya terjadi dengan penciptaan Allaah dan dengan ketentuan Allaah. Segala apa yang dikehendaki oleh Allaah untuk terjadi pasti terjadi, dan segala apa yang tidak Dia kehendaki kejadiannya maka tidak akan pernah terjadi. Seandainya seluruh makhluk bersatu untuk merubah apa telah diciptakan dan ditentukan oleh Allaah, maka sedikitpun mereka tidak akan mampu melakukan itu.

Bagi seorang yang beriman kepada al-Qur’an hendaklah ia berpegang teguh kepada firman Allah:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ (الأنبياء: 23)

“(Dia Allaah) tidak ditanya (tidak dimintai tanggung jawab) terhadap apa yang Dia perbuat, dan -justru- merekalah (para makhluk) yang akan diminta pertanggungjawaban”. (QS. al-Anbiya:23).

Kita sebagai manusia diperintah untuk melaksanakan apa yang telah ditetapkan di dalam syari’at. Apa-Bila kita melanggar maka kita sendirilah yang akan mem-pertanggung-jawab-kan-nya, dan apa-bila kita patuh/taat maka kita sendiri pula-lah yang akan menuai hasilnya. Dalam hal ini kita tidak boleh meminta “tanggung-jawab” atau “protes” kepada Allaah. Kita sebagai manusia tidak boleh berkata: “Mengapa Allaah menyiksa orang-orang berbuat maksiat dan orang-orang yang kafir, padahal Allaah yang berkehendak akan adanya kemaksiatan dan kekufuran pada diri mereka?”. Ini terjawab: Karena Allaah tidak ada yang meminta tanggung-jawab dari-Nya. Dia (Allaah) berhak melakukan apapun terhadap makhluk-makhluk-Nya karena semuanya adalah milik Allaah Ta'ala.

Kita sebagai manusia yang beriman hendaklah bersyukur sedalam-dalamnya, dan bacalah “al-Hamdu Lillah”, pujilah Allaah sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya, karena Allaah telah memberikan karunia besar kepada kita yang menjadi islam ini. Dia (Allaah) telah menjadikan kita sebagai orang-orang yang beriman kepada-Nya. --al-Hamdulillaahi-Robbil-‘Aalamiiin--

Posting Komentar untuk "Memahami Hakikat Qodlo dan Qodar Yang Sering Salah"